<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abdulrohim11&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://abdulrohim11.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abdulrohim11.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Jun 2011 06:22:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abdulrohim11.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abdulrohim11&#039;s Blog</title>
		<link>http://abdulrohim11.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abdulrohim11.wordpress.com/osd.xml" title="Abdulrohim11&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abdulrohim11.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>ABU YAZID AL-BUSTHAMI</title>
		<link>http://abdulrohim11.wordpress.com/2011/06/06/abu-yazid-al-busthami/</link>
		<comments>http://abdulrohim11.wordpress.com/2011/06/06/abu-yazid-al-busthami/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 06:22:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdulrohim11</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulrohim11.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[ABU YAZID AL-BUSTHAMI: ITTIHAD   A. Abu Yazid Al-Bustami serta Pengalaman Spritualnya Nama lengkapnya adalah Abu Yazid bin Isa bin Syurusan al-Bustami. Dia dilahirnya Dibustam nama salah satu didaerah Qunais, bagian timur laut Persia pada tahun 200 H/814 M.[1] Sebelum Abu Yazid mempelajari ilmu Tasawuf, dia belajar agama islam, terutama dengan bidang fiqih menurut Hanafi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulrohim11.wordpress.com&amp;blog=8811584&amp;post=30&amp;subd=abdulrohim11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> <strong>ABU YAZID AL-BUSTHAMI: <em>ITTIHAD</em></strong>  </strong></p>
<p><strong>A.</strong><strong> </strong><strong>Abu Yazid Al-Bustami serta Pengalaman Spritualnya </strong></p>
<p>Nama lengkapnya adalah Abu Yazid bin Isa bin Syurusan al-Bustami. Dia dilahirnya Dibustam nama salah satu didaerah Qunais, bagian timur laut Persia pada tahun 200 H/814 M.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Sebelum Abu Yazid mempelajari ilmu Tasawuf, dia belajar agama islam, terutama dengan bidang fiqih menurut Hanafi. Kemudian dia mempelajari ilmu tentang ilmu tauhid dan ilmu hakikat, begitu juga tentang fana’ dari abu ali sindi.</p>
<p>Abu Yazid adalah seorang Zahid yang terkenal. Baginya Zahid itu adalah seseorang yang mampu mendo’akan dirinya untuk selalu mendekatkan dengan Allah SWT. Abu Yazid adalah seorang tokoh sufi yang membawa faham yang berbeda dengan ajaran tasawuf yang dibawa para tokoh-tokoh sufi sebelumnya. Abu Yazid adalah tokoh sufi yang pertama yang memunculkan faham Fana’, Baqa’ dalam tasawuf. Dia ingin selalu dekat dengan Allah, seperti terlukis dari ucapannya “Aku bermimpi melihat Tuhan, akupun bertanya; Tuhanku, bagaimana caranya agar aku bisa sampai dekat kepadamu? Tuhan menjawabnya tinggalkanlah dirimu dan datanglah kepadaku”.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Beberapa pendiriannya, misalnya mengenai pengertian sakar, mabuk dalam mencintai Allah. Kata yang diucapkannya acapkali mempunyai arti dan makna yang begitu dalam, sehingga jika ditangkap secara lahir seakan-akan membawa kepada syirik karena mempersatukan antara Allah dan manusia.</p>
<p>Dalam Sejarah pewrkembangan Tasawuf, Abu Yazid Al-Bustami dipandang sebagai pembawa faham fana’ dan baqa’, serta sekalgus pencetus faham ittihad. A.J. Arberry menyebutnya sebagai first of the intoxicatede (sufi yang mabuk kepayang pertama kali).</p>
<p>Dengan cara fana’ Abu yazid al-bustami meninggalkan dirinya dengan menuju kehadirat tuhannya. Dia berada sangat dekat dengan tuhan dia dapat melihat dalam kesempatan Syathohat dia ungkapkan. Ungkapan Abu Yazid tentang fana’ dan ittihad (menyatu) dengan Tuhan, sebagaimana diucpkan dari abu yazid : ”aku ini Allah, tidak ada tuhan selain aku maka sembahlah aku”.</p>
<p>Ungkapan-ungkapan Abu Yazid tentang Ittihad terlukis dalam kata-katanya berikut ini: ”aku tidak heran terhadap cintaku kepadamu, karena aku hanyalah seorang hamba yang hina dina. Tetapi aku heran terhadap cintamu kepadaku, karena engkau adalah maha raja yang maha kuasa”. ”aku tidak mendambakan dari Allah kecuali hanya Allah”. ”manusia bertobat dari dosa mereka, tetapi aku bertobat dari ucapanku”.tidak ada tuhan selain allah karena dalam hal ini aku memakai ungkapan alat dan huruf, sedangkan tuhan tidak dapat digapai dan dijangkau dengan alat dan huruf”, pada suatu ketika aku dinaikan kehadirat tuhanku dan Dia berkata ”Abu Yazid, makhluk-makhlukku ingin melihatmu”. Aku menjawab ” kekasihku aku tidak ingin melihat mereka. Tetapi itu kehendakmu, hiasilah aku dengan keesanmu sehingga jika makhluk mu melihat aku mereka akan berkata : telah aku lihat engkau. Tetapi yang mereka lihat sebenarnya engkau, karena pada saat itu aku tidak ada disana. Abu yazid juga pernah mengatakan tuahanku berfirman semua mereka, adalah makhlukku, aku adalah engkau, engkau adalah aku, dan aku adalah engkau”.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Cerita lain tentang Abu yazid. Dia pernah ditanya tentang umurnya, dia menjelaskan bahwa umurnya ’empat tahun’. Si penanya kaget lalu balik bertanya ‘bagaimana hal itu bisa terjadi? Abu yazid mengatakan lebih lanjut : “aku terlindung dengan tabir pemisah antara aku dengan tuhanku oleh tabir dunia selama tujuh puluh tahun dan aku baru dapat melihatnya selama empat tahun terakhir ini’.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B. Pemikiran Abu Yazid al-Bustami  tentang Fana’ Baqa dan Ittihad.</strong></p>
<p>Menurut Abu Yazid, manusia pada hakikatnya seesensi dengan Allah dapat bersatu dengan-Nya apabila dia mampu meleburkan eksistensi (keberadaannya), sebagai suatu pribadi sehingga ia tidak menyadari pribadinya (fana’ an nafs), adalah hilangnya kesadaaran kemanusiaanya dan menyatu kepada irodah Allah, bukan jasad tubuhnya yang menyatu dengan zat Allah.</p>
<p>Al-fana’ dalam pengertian menurut al-Qusyairi’</p>
<p dir="RTL">
<p dir="RTL">فناءه عن نفسه وعن الخلق بزوال احساسحه بنفسه وبهم فنفسه موجودة والخلق موجود ولكن لاعلم له بهم ولابه</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Fana’nya seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan tentang makhluk lain itu…sebenarnya dirinya tetap ada, dan demikian pula makhluk lain ada, tetapi ia tak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya”.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari pengertian ini terlihat bahwa yang lebur atau fana’ itu adalah kemampuan atau kepekaan menangkap yang bersifat materi atau indrawi sedangkan materi atau jasad manusianya tetap utuh dan sama sekali tidak hancur. Jadi, yang hilang hanyalah kesadaran akan dirinya sebagai manusia.</p>
<p>Apabila seorang sufi telah berada dalam keadaan fana’ dalam pengertian tersebut diatas, maka pada saat itu maka ia telah dapat menyatu dengan tuhan sehingga wujudihanya  kekal atau baqa’. Didalam perpaduan itu ia menemukan hakikat-hakikat jati dirinya sebagai manusia yang berasal dari tuhan, itulah yang dimaksud dengan ittihad.</p>
<p>Paham ini timbul sebagai konsekuensi lanjut dari pendapatnya, bahwa jiwa manusia adalah pancaran dari nur ilahi, akunya manusia itu adalah pancaran dari yang maha esa. barang siapa yang mampu membebaskan diri dari alam lahiriyahnya, atau mampu meniadakan pribadinya dari kesadarannya sebagai insane, maka ia akan memperoleh jalan kembali kepada sumber asalnya. Ia akan menyatu padu dengan yang tunggal, yang dilihat dan dirasakan hanya satu. Keadaan seperti itulah yang disebut ittihad, yang oleh Bayazid disebut Tajrid fana attauhid, yaitu perpaduan dengan Tuhan tanpa diantari suatu apapun.</p>
<p>Dalam kenyataanya, al-Bustami begitu didominasi dengan keadaan. Karena itu banyak ungkapkan yang diriwyatkan berasal dari dia, seperti : ”makhluk mempunyai berbagai keadaan, tetapi seorang arif tidak mempunyai keadaan, sebab ia mengabaikan aturan-aturannya sendiri, identitasnya sirna pada identitas lainnya dan bekas-bekasnya gaib pada bekas-bekas lainnya”. Hal ini mustahil terjadi kecuali dengan ketertarikan penuh seorang arief kepada Allah, sehingga ia tidak menyaksikan selainnya. Seorang Arief, menurut Abu Yazid al-Bustami ’ dalam tidurnya tidak melihat selain Allah, dan jaganya pun tidak melihat selain Allah, dia tidak seiring dengan selain Allah dan tidak menelaaah selain Allah.</p>
<p>Dalam Fana’ menurut Abu Yazid terkandung pula fana’nya kehendak, dituturkan bahwa dia ”ingin tidak berkinginan. Dalam urainnya tentang ungkapan ini ibnu attohillah : ” ketahuilah! Sebagian orang berkata bahwa Abu Yazid ingin tidak berkinginan, karena Allah mengingininya. semua orang sepakat bahwa ia tidak mempunyai keinginan bersamanya, dia tidak menginginkan apapun dan tidak mengingininya. Dalam kehendaknya dia tidak ingin seiring dengan kehendak Allah.</p>
<p>Tapi ciri yang mendominasi kefana’an Abu Yazid adalah sirnanya kepada segala sesuatu yang selain allah dari pandangannya, dimana seorang sufi tidak lagi menyaksikan kecuali hakikat yang satu yaitu Allah. Bahkan dia tidak lagi melihat dirinya sendiri, karena dirinya terlebur dalam dia, yang disaksikannya. Inilah yang diungkapkannya dengan ”pengabaian aturan-aturannya sendiri, kefana’an identitas, dan kegaiban bekas”.dan pada keadaan inilah terjadinya penyatuan dengan yang maha benar. Pernyataan ini tersirat dalam ucapannya.”akupun keluar dari yang maha benar menuju kemaha benar dan akupun berseru.duh engkau yang aku! Telah kuraih kini peringkat kefana’an. Dan katanya pula ” sejak 30 tahun yang silam yang maha besar adalah cermin diriku, sbab kini aku tidak berasal dari diriku yang terdahulu ucapanku ’aku dan yang maha benar’ adalah pengingkaran terhadap penyatuan dengan yang maha benar, sebab aku ini tidaklah ada, dan yang maha benar adalah cermin darinya. Bahkan lihatlah ! yang maha benar adalah cermin diriku. Sebab, dia yang berbicara dengan ucapanku, sementara aku ini telah fana’.</p>
<p>Ungkapan Abu Yazid tentang kefana’anya dan penyatuanya dengan kekasihnya memang terlalu berlebih-lebihan, antara lain bagaimana ucpannya yang ganjil : ”aku ini Allah, tidak ada tuhan kecuali aku, maka sembahlah aku”. Katanya pula : ”betapa sucinya aku, betapa besarnya aku”. Dan katanya : aku keluar dari abu yazidku seperti halnya keluar dari kulitnya, dan pandanganku pun terbuka, dan ternyata sang pencipta, yang dicinta, dan cinta adalah satu. Sebab manusia itu dalam alam penyatuan adalah satu”. Suatu ketika abu yazid ditanya : ”apa ’arsy’ itu?”jawabannya : ”akulah Qursy itu”. Dan akhirnya dia ditanya: ”apa lauhmahfudz dan Qalam itu?”jawabanya: ”akulah keduanya”.</p>
<p>Masalah ungkapan yang ganjil ini telah dikaji secara mendalam oleh louis massignon. Menurutnya, ungkapan itu muncul pada seorang sufi dalam bentuk orang pertama diluar sadarnya. Hal ini berarti bahwa dia telah fana’ dari dirinya sendiri serta kekal dalam dzat yang maha benar, sehingga dia mengeluarkan kata-kata dengan kalam yang maha benar dan bukan ucapannya sendiri. Ungkapan-ungkapan yang diucapkan seorang sufi dalam kondisi begini tidak dia ucapkan dalam kondisi normal. Sebab ucapan demikian, dalam keadaan normal, justru akan ditolak sendiri oleh orang yang mengucapkannya.</p>
<p>Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa yang dituju dengan fana’ dan baqa’ ini adalah mencapai persatuan secara rohaniah dan batiniah dengan tuhan, sehingga yang disadarinya hanya tuhan dalam dirinya.</p>
<p>Adapun kedudukannya adalah merupakan hal, karena hal yang demikian tidak terjadi terus menerus dan juga karena dilimpahkan oleh tuhan. Fana’ merupakan keadaaan seseorang hanya menyadari kehadiran tuhan dalam dirinya, dan kelihatannya lebih merupakan alat, jembataan atau maqam menuju ittihad( penyatuan rohaniah dengan tuhan).</p>
<p>Berbicara fana’ dan baqa’ ini erat hubungannya al-Ittihad, yakni penyatuan batin rohaniah dengan tuhan, karena tujuan dari fana’ dan baqa’ itu sendiri adalah ittihad itu. Hal yang demikian sejalan dengan pendapat Mustafa Zuhri yang mengatakan bahwa fana’ dan baqa’ tidak dapat dipisahkan dengan membicarakan dengan paham ittihad. Dalam ajaran Ittihad sebagai salah satu metode Tasawuf sebagai dikatakan oleh al-Badawi, yang dilihat hanya satu wujud sungguhpun sebenarnya yang ada dua wujud yang terpisah dari yang lain. Karena yang dilihat dan yang dirasakan hanya satu wujud, maka dalam ittihad ini bisa terjadi pertukaran peranan antara yang mencintai (manusia) dengan yang dicintai (Tuhan) atau tegasnya antara sufi dan tuhan.</p>
<p>Dalam situasi ijtihad yang demikian itu, seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, suatu tingkatan dimana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka, dapat memanggil yang satu dengan kata-kata : ”Hai aku”. Dalam teks arabnya kata-kata tersebut berbunyi :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="RTL">قيقو ل الواحد للاخر ياانا</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka yang satu kepada yang lainnya mengatakan “aku”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan demikian jika seorang sufi mengatakan misalnya maha suci aku, maka yang dimaksud aku disitu bukan sufi sendiri, tetapi sufi yang telah bersatu batin dan rohaninya dengan Tuhan, melalui fana’ dan baqa’.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>C. Fana’ Baqa’ dan ittihad dalam pandangan al-Qur’an</strong></p>
<p>Paham fana’dan baqa’ yang ditunjukan untuk mencapai ittihad itu dipandang oleh sufi sebagai sejalan dengan konsep liqo’ ar robi’ menemui Tuhan. Fana’ dan baqa merupakan jalan menuju berjumpa dengan Tuhan. Hal ini sejalan dengan firman Allah yang berbunyi :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="RTL">فمن كان يرجوا لقاءربه فليعمل عملا اصاالحا ولا يشرك بعبادة ربه احدا [الكهف:.اا]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Barang siapa yang mengarapkan perjumpaan dengan tuhannya maka hendaklah yang mengerjakan amal yang soleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepadaNya. (Q.S.Al-kahfi110).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Faham ittihad ini juga dapat difahami dari keadaan ketika nabi isa ingin melihat Allah. Musa berkata : ”ya Tuhan, bagaimana supaya aku sampai kepadamu”. Tuhan berfirman : tinggalah dirimu (lenyapkanlah dirimu), baru kamu kemari (bersatu).</p>
<p>Ayat dan riwayat tersebut memberi petunjuk bahwa Allah SWT. Telah memberi peluang kepada manusia untuk bersatu dengan Tuhan secara rohaniah dan bathiniyah, yang caranya antara lain dengan beramal saleh, dan beribadah semata-mata karena Allah, menghilangkan sifat-sifat dan akhlak yang buruk, menghilangkan kesadaran sebagai manusia, meninggalkan dosa dan maksiat, dan kemudian menghias diri dengan sifat-sifat Allah, yang kesemuanya ini tercakup dalam konsep fana’ dan baqa’ adanya konsep fana’ dan baqa ini dapat difahami dari isyarat yang terdapat dalam ayat sebagai berikut :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="RTL">كل من عليها فان ويبقي وجه ربك زوالجلال والاكرام  [الر حمن:]</p>
<p dir="RTL">
<p>Semua yang ada dibumi ini akan binasa, yang tetap kekal dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Q.S. Al-Rahman.55:26-27).</p>
<p><strong>D. Ajaran yang Kompetebel bagi Kekinian dan Penerapannya.</strong></p>
<p>Setelah kita mengetahui bahwsannya ajaran yang dibawa oleh Abu Yazid, yaitu fana’ yang dimaksud dengan yang menghancurkan segala keburukan yang ada didalam rohani dan jasmani dan baqo’ ban bersatu dengan Allah ini adalah salah satu ajaran bahwasannya apabila kita menginginkan mahabahnya Allah berarti kita harus menghilangkan sifat-sifat yang ada didiri dan dalam hati kita, sehingga kita akan selalu merasakan keahdiran Allah di dalam hati kita (kebersamaan dengan Allah) dalam segala aktifitas yang kita lakukan.</p>
<p>Salah satu menghilangkan segala keburukan dalam diri kita yaitu yang bertaubat kepada Allah, Allah akan membukakan hati kita, Allah juga membukakan pintu dan menunjukan jalanNya untuk mendapatkan mahabbah maupun ma’rif’at Allah.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Kita sebagai manusia bisa mencapai ittihad seperti ajaran yang dibawakan oleh Abu Yazid al-Bustami yaitu dengan syarat melaksanakan fana’ dan mendapatkan baqa’.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari pembahasan yang diatas, ada beberapa poin yang perlu dijadikan kesimpulan, yaitu :</p>
<p>1.      Abu Yazid al-bustami adalah Abu Yazid Tahifur bin Isa Surusyan al-Bustami, lahir didaerah bustam (Persia) tahun 874-947 M. Nama kecilnya adalah Taifur.</p>
<p>2.      Pokok-Pokok Ajaran Tasawufnya adalah :</p>
<p>a.       Fana berasal dari kata faniya yang berarti musnah atau lenyap. Dalam istilah tasawuf, fana adakalanya diartikan sebagai keadaan moral yang luhur.</p>
<p>b.      Baqa berasal dari kata baqiya. Arti dari segi bahasa adalah tetap. Sedangkan berdasarakan istialah tasawuf berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah.</p>
<p>c.       Ittihad</p>
<p>Ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami seorang sufi setelah ia menempuhi tahapan fana’ dan baqa’.</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Atiqul Haque M,100 <em>Pahlawan Muslim yang Mengubah Dunia</em>, DIGLOSSIA, Jogjakarta : 2007</p>
<p>Dr.H.Ahmadi Isa, <em>Tokoh-tokoh Sufi-Tauladan Kehidupan Yang Saleh</em>, PT.Raja Grafindo, Jakarta : 2001</p>
<p>Dr.Abudinata, <em>Akhlak Tasawuf</em>,  PT.Raja Grafindo, Jakarta : 2006</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Dr. H.Ahmadi Isa. “Tokoh-tokoh Sufi Tauladan Kehidupan Yang Saleh”Jakarta <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> T.Raja Grafindo 2001.hal:139</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Dr. H.Ahmadi Isa. “Tokoh-tokoh Sufi Tauladan Kehidupan Yang Saleh”Jakarta <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> T.Raja Grafindo 2001.hal: 140-141</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Dr. H.Ahmadi Isa. “Tokoh-tokoh Sufi Tauladan Kehidupan Yang Saleh”Jakarta <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> T.Raja Grafindo 2001.hal: 142-143</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Dr.Abudinata. Akhlak Tasawuf, PT.  Raja Grafindo.Jakarta 2006</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Dr. Abudinatta, Akhlak Tasawuf, PT. Raja Grafindo, Jakarta : 2006</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulrohim11.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulrohim11.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulrohim11.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulrohim11.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulrohim11.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulrohim11.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulrohim11.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulrohim11.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulrohim11.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulrohim11.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulrohim11.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulrohim11.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulrohim11.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulrohim11.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulrohim11.wordpress.com&amp;blog=8811584&amp;post=30&amp;subd=abdulrohim11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulrohim11.wordpress.com/2011/06/06/abu-yazid-al-busthami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1b5025784ad495a5bf043c4d0b6bbec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abdulrohim11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RĀBI’AH AL-‘ADAWIYAH</title>
		<link>http://abdulrohim11.wordpress.com/2011/06/06/rabi%e2%80%99ah-al-%e2%80%98adawiyah/</link>
		<comments>http://abdulrohim11.wordpress.com/2011/06/06/rabi%e2%80%99ah-al-%e2%80%98adawiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 06:03:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdulrohim11</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulrohim11.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[RĀBI’AH AL-‘ADAWIYAH: MAHABBAH   1.      Biografi Singkat Rābi’ah al-‘Adawiyah Rābi’ah al-‘Adawiyah dilahirkan pada tahun 95 H/714 M atau 99 H/717-718 dan meninggal dunia di kota kelahirannya, Bashrah, pada tahun 185 H/801 M.[1] Beliau dilahirkan di suatu perkampungan di Bashrah (Irak). Kedua orang tuanya berasal dari keluarga fakir dan sudah meninggal saat Rābi’ah masih muda. Meski [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulrohim11.wordpress.com&amp;blog=8811584&amp;post=25&amp;subd=abdulrohim11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>RĀBI’AH AL-‘ADAWIYAH: <em>MA<span style="text-decoration:underline;">H</span>ABBAH</em></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://abdulrohim11.files.wordpress.com/2011/06/bismillah-g.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-26" title="Bismillah" src="http://abdulrohim11.files.wordpress.com/2011/06/bismillah-g.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a> </strong></p>
<p><strong>1.      </strong><strong>Biografi Singkat Rābi’ah al-‘Adawiyah</strong></p>
<p>Rābi’ah al-‘Adawiyah dilahirkan pada tahun 95 H/714 M atau 99 H/717-718 dan meninggal dunia di kota kelahirannya, Bashrah, pada tahun 185 H/801 M.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Beliau dilahirkan di suatu perkampungan di Bashrah (Irak). Kedua orang tuanya berasal dari keluarga fakir dan sudah meninggal saat Rābi’ah masih muda. Meski orang tua Rābi’ah fakir, pendidikan agama pada keluarganya sangatlah dipentingkan. Rābi’ah telah terbiasa dididik dengan akhlak mulia. Sejak kecil, Rābi’ah selalu ikut kegiatan ibadah orang tuanya, baik itu ibadah <em>mahdlah</em> atau hanya sekadar membaca Alquran dan berzikir.</p>
<p>Sejak kecil pula Rābi’ah telah dapat merasakan keadaan orang tuanya, seperti seseorang yang telah dewasa merasakannya. Ia menjadi pendiam, tidak menuntut terlalu banyak dari orang tuanya seperti kebanyakan gadis kecil yang sedang beranjak dewasa. Jika sedang menghadapi hidangan makanan, ia tidak memperlihatkan kerakusannya, tetapi hanya mengambil sekadarnya saja. Selesai makan, tidak lupa ia mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Swt., seperti yang juga dilakukan oleh kedua orang tuanya. Selain itu, Rābi’ah mengambil teladan dari kedua orang tuanya dan dari saudara-saudaranya yang lain, mengenai ajaran agama Islam dan sifat-sifat keutamaan. Pernah Rābi’ah mendengar lafal-lafal doa itu tidak pernah hilang dari ingatannya karena selalu diulang-ulang dalam doanya.</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari, ia selalu memerhatikan bagaimana ayahnya melakukan ibadah kepada Allah, antara lain dengan membaca Quran dan berzikir; ia pun selalu melakukan ibadah kepada Allah sesuai dengan yang telah dilihat dan didengarnya dari ayahnya. Rābi’ah juga sangat suka belajar menghafal ayat-ayat Alquran. Bila telah berhasil menghafalnya, ia duduk dan menghafalnya kembali dengan perasaan khusyuk, iman yang mendalam, dan pemahaman yang sempurna. Melihat hal ini, tak kuasa ayahnya menahan air mata. Ia sendiri tak tahu, apakah ini air mata gembira, atau air mata terharu, atau perasaan khusyuk.</p>
<p>Tidak jarang pula ayah Rābi’ah melihat putrinya mengasingkan diri, bermuka muram dan sedih, selalu dalam keadaan terjaga untuk beribadat kepada Allah, tak ubahnya tokoh-tokoh sufi yang telah terkenal. Pada suatu malam, ayahnya meninggalkan dia yang sedang membaca Alquran, menghadap kiblat sambil berdoa dengan menengadahkan tangannya, lalu menyapu mukanya dengan kedua tangannya, setelah ia selesai berdoa. Dalam keadaan seperti ini, hidup dalam suasana keimanan, peribadatan dan zuhud, Rābi’ah seolah-olah telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi tantangan zaman, seperti kekacauan, pergolakan, dan cobaan yang akan menimpa dirinya. Dalam usianya yang masih sangat muda, ayah Rābi’ah berpulang ke rahmatullah, yang kemudian disusul oleh ibunya. Dengan demikian, sejak kecil ia telah merasa pahitnya penderitaan sebagai anak yatim, yang hidup dalam kemiskinan.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Menurut Muhammad Atiyah Khamis, setelah kedua orang tua Rābi’ah wafat, ia jatuh ke tangan perampok karena dihadang segerombolan penyamun, kemudian dia dijual sebagai hamba sahaya dengan harga yang sangat murah, yaitu 6 dirham. Pedagang yang telah membeli Rābi’ah sebagai hamba sahaya memperlakukannya secara tidak manusiawi. Ia bertindak sebagai orang yang kasar dan bengis, tanpa pandang bulu, bahkan kepada wanita yatim-piatu seperti Rābi’ah. Namun Rābi’ah menghadapi semua cobaan itu dengan segala kekuatan imannya. Kebengisan pedagang itu tidak menjadikannya putus asa, tetapi justru semakin mengokohkan imannya. Ia mengisi hari-harinya dengan berbagai macam kesibukan. Jika pada siang hari ia harus membanting tulang melakukan berbagai macam pekerjaan yang dibebankan tuannya kepadanya, maka pada malam hari ia mengisi waktunya dengan beribadah kepada Allah. Ia selalu berdoa, bermunajat pada Allah, memohon ampunan dan rida-Nya.</p>
<p>Suatu ketika, Rābi’ah berdoa dan mendirikan salat. Pedagang yang menjadi majikannya tiba-tiba melihat sebuah lentera berayun-ayun di atas kepala Rābi’ah, tanpa tali yang menahannya. Yang lebih mengherankan pedagang itu, cahaya lentera itu memancar ke seluruh kamar, sehingga menimbulkan ketakutan di hati majikan Rābi’ah. Semalaman ia tidak dapat memejamkan matanya, berusaha mencari jawaban atas peristiwa yang hampir tak dapat dipercayainya. Ketika fajar menyingsing, pedagang itu mendatangi Rābi’ah, dan berkata: “Rābi’ah, aku memberikan kebebasan kepadamu. Jika engkau mau, engkau boleh tinggal di sini. Kami semua akan menyediakan segala keperluanmu. Namun, kau bebas untuk menentukan pilihanmu, jika kau memang ingin meninggalkan kami.” Begitu mendengar perkataan tuannya, Rābi’ah segera bangkit, lalu mengucapkan selamat tinggal kepada tuannya, dan segera berangkat. Sejak itu, Rābi’ah telah menjadi orang yang merdeka.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Rābi’ah mencapai usia delapan puluhan tahun. Bukan hanya semata-mata tahun yang panjang, tapi waktu yang penuh dengan berkat hidup yang menyebar ke sekitarnya atau seperti dikatakan Louis Massignon, suatu kehidupan yang menyebarkan wangi yang semerbak ke daerah sekitarnya dan cinta yang tak pernah padam.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>2.      </strong><strong>Konsep <em>Ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah</em> dalam Pandangan Rābi’ah al-‘Adawiyah</strong></p>
<p>Kata <em>“ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah”</em>, atau <em>“al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>ubb”</em>, menurut al-Qusyairī, adalah diambil dari kata <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>abab</em> (gelembung air) yang selalu di atas air, karena cinta merupakan puncak segalanya dalam hati. Juga merupakan sesuatu yang melambung di atas air ketika hujan turun. Di atas cinta ini hati terasa mendidih dan semakin meluap saat haus serta berkobar kerinduannya untuk bertemu kekasihnya. Di samping itu, <em>al-hubb</em> diambil dari <em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>abb</em>, sebagai bentuk jamak kata <em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah</em> (biji). Sedang biji hati, sebagai sesuatu yang berada dan menetap dalam hati, sehingga <em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>abb</em> (biji-bijian) dinamakan <em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>ubb</em> (cinta), karena yang dimaksud adalah tempatnya.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Menurut al-Hujwiri, <em>al-ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah/al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>ubb</em> terambil dari kata <em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>ibbah</em>, merupakan benih-benih yang jatuh ke bumi di padang pasir. Kata ini ditujukan kepada benih-benih di padang pasir tersebut (<em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>ibb</em>), karena cinta itu sebagai sumber kehidupan sebagaimana benih-benih itu merupakan asal mula tanaman. Tokoh lain menyatakan, <em>al-ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah</em> itu diambil dari <em>al-hubb</em>, yang berarti sebuah tempayan penuh dengan air tenang, karena jika cinta itu berpadu di dan memenuhi hati, maka tak ada ruang bagi pikiran tentang selain yang dicintai. Kata al-Syiblī, cinta itu dinamakan <em>al-ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah</em>, karena ia menghapus dari hati, segala sesuatu kecuali yang dicintainya. Kata tokoh lain, <em>al-ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah</em> diturunkan dari <em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>abb</em>, jamak <em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah</em>, dan <em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah</em> itu relung hati di mana cinta bersemayam. Sumber lain menuturkan, kata itu diturunkan dari <em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>abab</em>, yaitu gelembung-gelembung air dan luapan-luapannya waktu hujan lebat, karena cinta itu luapan hati yang merindukan persatuan dengan kekasih. Ini sebagaimana badan bisa hidup, karena ada ruh, begitu pula hati dapat hidup karena ada cinta, dan cinta bisa hidup, karena melihat dan bersatu dengan kekasih.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Sementara itu, menurut Harun Nasution, <em>al-ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah</em> adalah cinta dan yang dimaksud ialah cinta kepada Tuhan. Pengertian yang diberikan kepada <em>ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah</em> antara lain: (a.) Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan pada-Nya; (b.) Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi; dan (c.) Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Menurut Margaret Smith, Rābi’ah adalah orang pertama yang menyatakan doktrin cinta tanpa pamrih kepada Allah. Di dalam sejarah perkembangan tasawuf, hal ini merupakan konsepsi baru di kalangan para sufi kala itu.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a> Untuk mengetahui lebih jauh tentang konsepsi <em>al-ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah</em> atau <em>al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>ubb</em> menurut Rābi’ah, akan ditelusuri pernyataannya tentang cinta.</p>
<p>Pada suatu ketika, Rābi’ah ditanya pendapatnya tentang batasan konsepsi cinta. Rābi’ah menjawab<a title="" href="#_ftn9">[9]</a>:</p>
<p><em>“Cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan. Mereka yang merasakan cinta saja yang dapat mengenal apa itu cinta. Cinta tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tak mungkin orang dapat menjelaskan sesuatu yang belum dikenalnya. Atau mengenali sesuatu yang belum pernah digaulinya. Cinta tak mungkin dikenal lewat hawa nafsu terlebih bila tuntutan cinta itu dikesampingkan. Cinta bisa membuat orang jadi bingung, akan menutup untuk menyatakan sesuatu. Cinta mampu menguasai hati.”</em></p>
<p>Rābi’ah juga membagi cinta menjadi dua macam. <em>Pertama</em>, cinta yang dapat membahagiakannya, dan <em>kedua</em>, cinta yang menjadi hak Allah. Pembagian ini dapat dilihat dalam syairnya<a title="" href="#_ftn10">[10]</a>:</p>
<p align="right">أُحِبُّكَ حُبَّيْنِ حُبُّ الْهَوَى # وَحُبُّ لَأَنَّكَ أَهْلٌ لِذَاكَ</p>
<p align="right">فَأَمَّا الَّذِيْ هُوَ حُبُّ الْهَوَى # فَشُغْلِيْ بِذِكْرِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ</p>
<p align="right">وَأَمَّا الَّذِيْ أَنْتَ أَهْلٌ لَهُ # فَكَشْفُكَ لِيَ الْحِجَابُ حَتَّى أَرَاكَ</p>
<p align="right">فَلاَ الْحَمْدُ فِيْ ذَا وَلاَ ذَاكَ لِيْ # وَلَكِنَّ لَكَ الْحَمْدُ فِيْ ذَا وَذَاكَ</p>
<p><em>“Aku mencintaimu dengan dua cinta, cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu.</em><em> </em><em>Adapun cinta karena diriku adalah keadaanku yang selalu mengingat-Mu. Adapun cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir hingga Engkau kulihat. Baik untuk ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku, bagi-Mulah pujian baik untuk ini maupun untuk itu.” </em><em></em></p>
<p>Bagi Rābi’ah, ibadah bukan untuk masuk surga atau menghindari neraka, tetapi untuk berjumpa dengan yang dicintai, yaitu Allah semata. Ini dapat dilihat pada<a title="" href="#_ftn11">[11]</a>:</p>
<p dir="RTL">إِلَهِيْ هَذَا اللَّيْلُ قَدْ أَدْبَرَ وَهَذَا النَّهَارُ قَدْ أَسْفَرَ فَلَيْتَ شَعْرِى أَقْبَلْتَ مِنْ لَيْلَتِى فَأَهْنَأَ أَمْ رَدَدْتَهَا فَأَعْزَى فَوَعَزْتُكَ هَذَا دَأْبِى مَا أَحْيَيْتَنِى وَأَعْنَتَنِى، وَعِزَّتُكَ لَوْ طَرِدْتَنِى عَنْ بَابِكَ مَا بَرِحْتُ عَنْهُ لِمَا وَقَعَ فِى قَلْبِى مَنْ  مَحَبَّتِكَ</p>
<p><em>“Tuhanku, malam telah berlalu dan siang telah menampakkan diri. Aku gelisah, apakah amalku Engkau terima hingga aku merasa gembira atau Engkau tolak hingga aku merasa sedih? Demi Mahakuasa-Mu inilah yang aku lakukan selama aku Engkau beri hayat. Sekiranya Engkau mengusir aku dari depan pintu-Mu, aku tidak akan pergi, karena cintaku pada-Mu telah memenuhi hatiku.”</em></p>
<p>Atau, dalam pernyataannya yang lain<a title="" href="#_ftn12">[12]</a>:</p>
<p dir="RTL">بِأَنِّي مَا عَبَدْتُ اللهَ حُبًّا فِى جَنَّتِهِ وَلاَ خَوْفًا مِنْ نَارِهِ بَلْ عَبَدْتُهُ حُبًّا لَهُ وَشَوْقًا إِلَيْهِ</p>
<p><em>“Sesungguhnya aku tidak menyembah Allah karena mencintai surga-Nya, dan bukan pula takut neraka-Nya, tetapi aku menyembah-Nya karena mencintai-Nya dan merindukan-Nya.”</em></p>
<p>Bagi Rābi’ah, <em>ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah</em> merupakan <em>maqām</em> tertinggi dalam kesufiannya. Tahapan-tahapan kesufian Rābi’ah ialah <em>taubah, zuhud, ridla, muraqabah,</em> dan terakhir, <em>ma<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah</em>. Bagi Rābi’ah, cinta kepada Allah merupakan pendorong segala aktivitasnya. Dalam hidupnya di dunia ini, dia hanya ingin mengingat Tuhan dan di akhirat nanti, dia hanya ingin bertemu dengan Tuhan. Hati Rābi’ah telah dipenuhi oleh rasa cinta sampai tak ada ruang untuk membenci sesuatu, termasuk kepada setan. Hal ini tercetus sewaktu ditanya tentang setan, dia menjawab, “Tidak (benci), cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci pada setan.” Tentang cintanya kepada Nabi Muhammad Saw., dia menyatakan,” Saya cinta kepada Nabi, tetapi cintaku kepada Sang Pencipta memalingkan diriku dari cinta kepada makhluk.”<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><em>Wallāhu a’lam.<br />
</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Ardani, Mohammad. <em>Akhlak-Tasawuf: Nilai-nilai Akhlak/Budi Pekerti dalam Ibadat dan Tasawuf</em>. Jakarta: 2005.</p>
<p>Asyhari, Muhammad. <em>Tafsir Cinta: Tebarkan Kebajikan dengan Spirit Alquran</em>. Jakarta: Hikmah, 2006.</p>
<p>Khamis, Muhammad Atiyah. <em>Rabi’ah al-Adawiyah: Penyair Wanita Sufi</em>, Penerjemah Aliudin Mahjuddin. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.</p>
<p>al-Naisābūrī, ‘Abd al-Karīm Hawazin al-Qusyairī. <em>Risalah Qusyairiyah: Sumber Kajian Ilmu Tasawuf</em>, Penerjemah Umar Faruq. Jakarta: Pustaka Amani, 1998.</p>
<p>Nasution, Harun. <em>Falsafah dan Mistisisme dalam Islam</em>. Jakarta: Bulan Bintang, 1992.</p>
<p>Smith, Margaret. <em>Rabi’ah al-Adawiyah: Pergulatan Spiritual Perempuan</em>, Penerjemah Jamilah Baraja. Surabaya: Risalah Gusti, 2001.</p>
<p>al-Sulami, Abū ‘Abdurra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mān. <em>Sufi-sufi Wanita: Tradisi yang Tercadari</em>, Penerjemah Ahsin Mohammad. Bandung: Pustaka Hidayah, 2004.</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>Abū ‘Abdurra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mān al-Sulamī, <em>Sufi-sufi Wanita: Tradisi yang Tercadari</em>, Penerjemah Ahsin Mohammad (Bandung: Pustaka Hidayah, 2004), h. 91.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>Muhammad Atiyah Khamis, <em>Rabi’ah al-Adawiyah: Penyair Wanita Sufi</em>, Penerjemah Aliudin Mahjuddin (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), h. 7-9.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>Khamis, <em>Rabi’ah al-Adawiyah</em>, h. 16-19.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>Khamis, <em>Rabi’ah al-Adawiyah</em>, h. 80.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>Abū al-Qāsim ‘Abd al-Karīm Hawazin al-Qusyairī al-Naisābūrī, <em>Risalah Qusyairiyah: Sumber Kajian Ilmu Tasawuf</em>, Penerjemah Umar Faruq (Jakarta: Pustaka Amani, 1998), h. 477-478.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>al-Naisābūrī, <em>Risalah Qusyairiyah</em>, h. 478.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>Harun Nasution, <em>Falsafah dan Mistisisme dalam Islam</em> (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 70.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a>Margaret Smith, <em>Rabi’ah al-Adawiyah: Pergulatan Spiritual Perempuan</em>, Penerjemah Jamilah Baraja (Surabaya: Risalah Gusti, 2001), h. 107.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a>Khamis, <em>Rabi’ah al-Adawiyah</em>, h. 60-62.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a>Muhammad Asyhari, <em>Tafsir Cinta: Tebarkan Kebajikan dengan Spirit Alquran</em> (Jakarta: Hikmah, 2006), h. 79.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a>Asyhari, <em>Tafsir Cinta</em>, h. 79-80.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a>Mohammad Ardani, <em>Akhlak-Tasawuf: Nilai-nilai Akhlak/Budi Pekerti dalam Ibadat dan Tasawuf</em> (Jakarta: Karya Mulia, 2005), h. 207-208.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a>Asyhari, <em>Tafsir Cinta</em>, h. 63-65.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulrohim11.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulrohim11.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulrohim11.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulrohim11.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulrohim11.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulrohim11.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulrohim11.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulrohim11.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulrohim11.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulrohim11.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulrohim11.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulrohim11.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulrohim11.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulrohim11.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulrohim11.wordpress.com&amp;blog=8811584&amp;post=25&amp;subd=abdulrohim11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulrohim11.wordpress.com/2011/06/06/rabi%e2%80%99ah-al-%e2%80%98adawiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1b5025784ad495a5bf043c4d0b6bbec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abdulrohim11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abdulrohim11.files.wordpress.com/2011/06/bismillah-g.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Bismillah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tahlilan adalah warisan para ulama salafu shalihin</title>
		<link>http://abdulrohim11.wordpress.com/2010/11/12/tahlilan-adalah-warisan-para-ulama-salafu-shalihin/</link>
		<comments>http://abdulrohim11.wordpress.com/2010/11/12/tahlilan-adalah-warisan-para-ulama-salafu-shalihin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Nov 2010 10:26:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdulrohim11</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulrohim11.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Kalimat-kalimat yang ada dalam tahlil adalah amalan-amalan ulama terdahulu yang memiliki banyak karomah dan dalam bacaan-bacaan tahlilan terdapat fadilah tersendiri yang bisa dirasakan dengan pengamalan secara dawam dan istiqomah&#8230;.. mau bukti??? ya praktekan saja&#8230;&#8230;. تهليل اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله ُ , وَاَشْهَدُ  اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ , اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنـــَا مُحَمَّدٍ وَعَلى [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulrohim11.wordpress.com&amp;blog=8811584&amp;post=16&amp;subd=abdulrohim11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalimat-kalimat yang ada dalam tahlil adalah amalan-amalan ulama terdahulu yang memiliki banyak karomah dan dalam bacaan-bacaan tahlilan terdapat fadilah tersendiri yang bisa dirasakan dengan pengamalan secara dawam dan istiqomah&#8230;..</p>
<p>mau bukti???</p>
<p>ya praktekan saja&#8230;&#8230;.</p>
<h1 style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>تهليل </strong></span></h1>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله ُ , وَاَشْهَدُ  اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ , اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنـــَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ 2×</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله ُ , وَاَشْهَدُ  اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ , اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنــَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">اَسْتَغْفِرُ الله َ  الْعَظِيْمِ 3×</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">يَا هَادِيْ  يَا عَلِيْمُ  يَاخَبِيْرُ  يَامُبِيْنُ  يَاوَلِيْ  يَاحَمِيْدُ  يَاقَوِيْمُ  يَاحَفِيْظُ 11×</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">اِلَى حَضْرَ ةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  , وَعَلى الِه وَاَصْحَابهِ وَاَزْوَاجِه وَاَوْلاَدِه وَذُرِّ يَــتِه وَجَمِيْع ابَائِهِ وَاِخْوَانِهِ مِنَ اْلأَنبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ وَالِ كُلٍّ وَجَمِيْع الصَّحَابَةِ وَالْقَرَابَةِ وَالتَّابعِيْنَ وَ تَابع التَّابعِيْنَ وَ تَابعِــهِمْ بـإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّينِ شَيْئٌ  لِلّه ِ لَهُ  وَ لَهُنَّ  وَلَهُمُ الْفَاتِحَةِ</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">وَثمَّ نخُصُّ خُصُوْصًا اِلَى رُوْحِ عَبْدُكَ  | أُمَّتُكَ الْفَقِيْر &#8230;&#8230;&#8230; بنْ | بنْتِ &#8230;&#8230;&#8230; اَلْفَاتِحَةِ .</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">وَنــَخُصُّ خَاصَّةً اِلَى اَرْوَاحِ سَادَاتـِنَا اَهْلِ الْمَعْلى وَالسُّبـَيـْكَةِ  وَالْبَقِيْع وَجَمِيْع اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ , وَخُصُوْصًا اِلَى اَرْوَاحِ ابَائِـنَا وَابَائِكُمْ وَاُمّهَاتـِنَا وَاُمـَّـهَاتِكُمْ وَاَزْوَاجِنَا وَاَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلاَدِنا وَاَوْلاَدِكُمْ  وَاَجْدَادِنا وَاَجْدَادِكُمْ وَمَشَايحِنَا وَمَشَايحِكُمْ وَمُعَلِّمِنَا وَمُعَلِّمِكُمْ , خُصُوْصًا اِلَى حَضْرَةِ رُوْحِ مَوْلنَا اَبَهْ عُمَر بِنْ اِسْمَاعِيلْ بِنْ يَحْي وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَحَوَاشِــهِمْ وَاَهْلِ سِلْسِلَـتِــهِمْ فِي الدِّيـْنِ وَالدُّنـــْيَا وَاْلاَخِرَةِ شَيْئٌ للهِ لَهُ وَلَهُنَّ وَلَهُمُ الْفَاتِحَةِ .</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">اَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ اَنَّه</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ , حَيٌّ مَوْجُوْدٌ</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ , حَيٌّ بَاقٌ</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ , حَيٌّ مَقْصُوْدٌ, سَيِّدُنــَا مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ  111×</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ , لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ  2×</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ , سَيِّدُنــَا مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ .</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنــَا مُحَمَّدٍ . اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ 2×</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنــَا مُحَمَّدٍ . يَارَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ .</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">سُبْحَانَ اللهِ وَبحَمْدِه , سُبْحَانَ اللهِ وَبحَمْدِه  18×</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">سُبْحَانَ اللهِ وَبحَمْدِه , سُبْحَانَ الله ِ  الْعَظِيْمِ , اَسْتَغْفِرُ اللهُ 3×</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">اَللّهُمَّّ صَلِّ عَلى حَبِيْبكَ سَيِّدِنــَا مُحَمَّدٍ وَّالِه وَصَحْبِه وَسَلِّمْ 2×</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">اَللّهُمَّّ صَلِّ عَلى حَبِيْبكَ سَيِّدِنــَا مُحَمَّدٍ وَّعَلى الِه وَاَصْحَابِه وَ بَارِكْ وَسَلِّمْ .</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ )1( اَللهُ الصَّمَدُ   )2(لـَمْ يَلـِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ)3( وَلَمْ يَكُنْ لَّه كُفُوًا اَحَدٌ  )4(- 3×</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدِ</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ )1( مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ )2( وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ )3(<sup> </sup>وَمِنْ شَرِّ النَّفّثتِ فيِ الْعُقَدِ)4( وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ )5(</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدِ</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">قُلْ اَعُوْذُ برَبِّ النَّاسِ )1( مَلِكِ النَّاسِ  )2( اِلهِ النَّاسِ  )3( مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ 5<sup>لا </sup> الْخَنَّاسِ  )4( الَّذِيْ  يُوَسْوِس ُ  فِيْ  صُدُوْرِ  النَّاسِ  )5( مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ  )6(</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدِ</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">بسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ   )1( اَلْحَمْدُ  لله ِ  رَبِّ   الْعَالَمِيْنَ   )2( الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ   )3( ملِكِ يَوْمِ الدِّ يـْنِ   )4( ايـَّاكَ نـَعْبُدُوَايـَّاكَ نـَسْتَعِيْنُ   )5( اِهْدِنـَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ   )6( صِرَاطَ الَّذيـْنَ اَنـــْعَمْتَ عَلَيْهِمْ 5 غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّالّــِـيْنَ   )7(</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">الـمّ  )1( ذلِكَ الْكِتبُ لاَرَ يْبَ  فِيْهِ  هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ  )2( الَّذينَ يُؤْمِنُوْنَ بالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلوةَ  وَمِمَّا  رَزَقْنـهُمْ  يـُنْفِقُوْنَ</span></strong><br />
<strong><span style="color:#00ff00;"> )3(وَالَّذينَ يُؤْمِنُوْنَ بمَآ اُنـــْزِلَ  إِلَيْكَ وَمَآ اُنـــْزِلَ مِنْ قـبْلكَ  وَباْلآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ  )4( اُولئِكَ عَلى هُدًى مِنْ رَّ بـِّهِمْ وَاُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ  )5(</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">وَاِلهُكُمْ اِلهٌ وَّاحِدٌ<sup> جـ </sup>لآَ اِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ  ` اَللهُ لآَ اِلهَ إِلاَّ هُوَ <sup>جـ </sup>اَلحَيُّ الْقَّـيُّوْمُ  5<sup>جـ </sup> لاَ تَأْخُذُه سِنَةٌ وَ لاَ نــَوْمٌ <sup>قلى</sup> لــَه مَا فيِ السَّموتِ وَمَا فيِ اْلأَرْضِ <sup>قلى</sup> مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَه إِلاَّ بـإِذنِهِ <sup>قلى</sup> يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيدِي  يـْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ <sup>جـ</sup> وَلاَيُحِيْطُوْنَ بشَيْئٍ مِّنْ عِلْمِه إِلاَّ بِمَاشَآءَ <sup>جـ</sup> وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّموتِ وَاْلأَرْضَ <sup>جـ </sup> وَلاَ يَئوْدُه حِفْظُهُمَا <sup>جـ </sup>وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ` شَهِدَ اللهُ أَ نـَّه لآَ اِلهَ إِلاَّ هُوَ <sup>لا</sup> وَالْمَلئِكَةُ وَاُولُواالْعِلْمِ قَآئِمًا بالقِسْطِ<sup>قلى</sup> لآَاِلهَ اِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيْمُ ` إِنَّ الدِّ يــْنَ عِنْدَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ <sup>قلى </sup>`<sup> </sup></span></strong><br />
<strong><span style="color:#00ff00;"> قُلِ اللّهُمَّ ملِكَ الْمُلْكِ  تُـؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَآءُ وَ تــَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَآءُ <sup>صلى </sup> وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ وَ تُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ بـِيَدِكَ الْخَيْرُ<sup> قلى</sup> إِنَّكَ عَلى كُلِّ شَيْئٍ قَديرٌ ` تُوْلــِــــجُ اللَّيْلَ فيِ النَّـهَارِ وَتُوْلـِـــجُ النَّـهَارَ فيِ اللَّيْلِ  وَ تُخرِ جُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَ تُخرِ جُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ   وَتــَر ْزُقُ  مَنْ تَشَآءُ بغَيْرِ حِسَابٍ ` للهِ مَافيِ السَّموتِ وَمَافيِ اْلأَرْضِ <sup>قلى</sup> وَاِنْ تُبْدُوْا مَافِيْ اَنفُسِكُمْ اَوْتُخفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهُ <sup>قلى</sup> فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَآءُ<sup> قلى</sup> وَاللهُ عَلى كُلِّ شَيْئٍ قَديرٌ ` امَنَ الرَّسُوْلُ بمَآ اُنـــْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَّ بِّه وَالْمُؤْمِنُوْنَ <sup>قلى</sup> كُلٌّ امَنَ باللهِ وَمَلئِكَتِه وَكُتُبِه وَرُسُلِه <sup>قلى</sup> لاَ نُفَرِّقُ  بَيْنَ اَحَدٍ  مِّنْ رُّسُلِه  <sup>قلى</sup> وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا <sup>قلى</sup> غُفْرَانكَ رَبــَّـنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ ` لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا <sup>قلى</sup> لَهَا مَاكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ <sup> قلى </sup>رَبَّنَا لاَ تُــؤَاخِذ ْ نــَآ إِنْ نــَّسِيْنَآ اَوْاَخْطَأْنــَا <sup>جـ</sup> رَبــَّنَا وَ لاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَه عَلَى الَّذِ يــْنَ  مِنْ قَـبْلـِنَا <sup>جـ</sup> رَبــَّنَا وَ لاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَابــِهِ <sup>جـ </sup>وَاعْفُ عَنَّا <sup>قلى</sup> وَاغْفِرْلَنَا <sup>قلى</sup> وَارْحَمْنَا <sup>قلى</sup> اَنْتَ مَوْلنَا فَانـــْصُرْنــَا عَلىَ الْقَوْمِ الْكفِرِ يــْنَ  `</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">كتراعان : ( وَاعْفُ عَنَّا &#8230;&#8230; عَلى الْقَوْمِ الْكفِرِ يــْنَ  3× )</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">***</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">دعاء تهليل</span></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="color:#00ff00;">اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْـبِناَ وَشَفِيْعِنَا وَكَرِ  يْمِنَا وَدُخْرِنــَا وَمَوْلنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالى عَنْ سَادَاتِ اَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ اَجْمَعِيْنَ . اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ . حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِ  يــْدَهُ يَارَبــَّنَا لـــَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِكَ الْكَرِ يْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ . اَللّهُمَّ اجْعَلْ وَاَرْسِلْ وَ تـَقــَبَّلْ  ثـــَوَابَ مَا هَلَّلْنَا مِنْ قَوْلِ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ . وَمَا سَبَّحْنَا مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللهُ . وَمَا صَلَّيْنَاهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ هذَا الْمَجْلِسِ هَدِ يَةً مِنَّا وَاصِلَةً وَبَرَكَةً شَامِلَةً وَرَحْمَةً نـَازِلَةً . اَللّهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ وَاجْعَلِ الْجَنَّةِ مَأْوَاهُمْ . اَللّهُمَّ اَ نْزِلْ فيِ  ْ قُبُوْرِهِمْ نُوْرًا وَرَحْمَةً وَمَغْفِرَةً دَائِمَةً اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَاجْعَلْ فيِ  قُبُوْرِهِمْ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجِنَانِ وَلاَ تَجْعَلْ قُبُوْرَهُمْ حُفْرَةً مِنْ حُفْرِ النِّيْرَانِ . اَللّهُمَّ تَقَبَّلْ وَاَوْصِلْ ثـــَوَابَ  مَا قَرَأْنــَاهُ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ . وَمَا صَلَّيْنَاهُ وَمَا اسْتَغْفِرْنــَاهُ  وَمَا سَبَّحْنَاهُ فيِ  ْ هذَا الْمَجْلِسِ هَدِ يَةً مِنَّا وَاصِلَةً وَرَحْمَةً نـَازِلَةً وَبَرَكَةً شَامِلَةً وَصَدَقَةً مُتَقَبَّلَةً . اَللّهُمَّ بــِحَقِّ  الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ . وَبــِجَاهِ كَلاَمِكَ الْقَدِ يــْمِ إِجْعَلْ . اَللّهُمَّ  ثـــَوَابَ  ذلِكَ بَعْدَ الْقُبُوْلِ فِدَاءً لَهُمْ مِنَ النَّارِ وَسِتْرًا لَهُمْ مِنَ النَّارِ  إِجْعَلْ . اَللّهُمَّ الْقُرْآنَ يَا اَللهُ فيِ  ْ قُبُوْرِهِمْ مُؤْنِسًا لَهُمْ وَفيِ الْقِيَامَةِ شَافِعًا لَهُمْ وَفِي الْجَنَّةِ رَافِعًا وَعَلَى النَّارِ سِتــْرًا وَحِجَابًا وَاجْعَلْ . اَللّهُمَّ الْجَنَّةِ مَأْوَاهُمْ . اَللّهُمَّ اَنـــْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالشَّفَاعَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلَى جَمِيْعِ اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اِرْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ وَضَاعِفْ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَكَفِّرْ عَنْهُمُ الشَّيــِّئـــَاتِ . يَا اَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئـِنَّةِ <sup>قلا</sup> اِرْجِعِيْ اِلى رَبــِّكِ  رَاضِيَةً مَرْضِيَةً <sup>جـ</sup> فَادْخُلِيْ فيِ  ْ عِبَادِيْ .وَادْخُلِيْ  جَنَّتِيْ . وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ . وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ . وَ نــَحْتِمُ بــِالْفَاتِحَةِ .</span></strong></h2>
<p dir="rtl">&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulrohim11.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulrohim11.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulrohim11.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulrohim11.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulrohim11.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulrohim11.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulrohim11.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulrohim11.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulrohim11.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulrohim11.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulrohim11.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulrohim11.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulrohim11.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulrohim11.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulrohim11.wordpress.com&amp;blog=8811584&amp;post=16&amp;subd=abdulrohim11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulrohim11.wordpress.com/2010/11/12/tahlilan-adalah-warisan-para-ulama-salafu-shalihin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1b5025784ad495a5bf043c4d0b6bbec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abdulrohim11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ariemcool</title>
		<link>http://abdulrohim11.wordpress.com/2009/12/16/ariemcoo/</link>
		<comments>http://abdulrohim11.wordpress.com/2009/12/16/ariemcoo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 07:27:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdulrohim11</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulrohim11.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[“IKATAN KELUARGA MAHASISWA DEPOK” VISI : &#8220;MENCIPTAKAN GENERASI MUDA KOTA DEPOK YANG BERKUALITAS DAN MAMPU BERSAING DALAM MENGHADAPI DUNIA GLOBAL” MISI : “MEMBERIKAN PELATIHAN-PELATIHAN UNTUK MEMBEKALI MAHASISWA AGAR MAMPU MENCIPTAKAN KEMANDIRIAN “ Ø  Untuk memberikan Pelatihan-pelatihan diberbagai bidang pendidikan untuk pemberdayaan mahasiswa. Ø  Sebagai fasilisator dan media informasi kepentingan mahasiswa dan pemerintah. Ø  Sebagai wadah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulrohim11.wordpress.com&amp;blog=8811584&amp;post=8&amp;subd=abdulrohim11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>“IKATAN KELUARGA MAHASISWA DEPOK”</h1>
<h2><strong>VISI :</strong></h2>
<h4>&#8220;MENCIPTAKAN GENERASI MUDA KOTA DEPOK YANG BERKUALITAS DAN MAMPU BERSAING DALAM MENGHADAPI DUNIA GLOBAL”</h4>
<h2><strong>MISI :</strong></h2>
<h4>“MEMBERIKAN PELATIHAN-PELATIHAN UNTUK MEMBEKALI MAHASISWA AGAR MAMPU MENCIPTAKAN KEMANDIRIAN “</h4>
<h4>Ø  Untuk memberikan Pelatihan-pelatihan diberbagai bidang pendidikan untuk pemberdayaan mahasiswa.</h4>
<h4>Ø  Sebagai fasilisator dan media informasi kepentingan mahasiswa dan pemerintah.</h4>
<h4>Ø  Sebagai wadah pengembangan SDM dalam pemberdayaan masyarakat.</h4>
<h4>Ø  Melakukan kajian dan penerapan pemberdayaan masyarakat di berbagai aspek kehidupan.</h4>
<h4>Ø  Mengembangkan kemampuan kreativitas dan keilmuan guna mengaktualisasikan keahlian atau profesionalisme dalam berbagai bidang kehidupan.</h4>
<h1>PENDAHULUAN</h1>
<p>Sadar bahwa Depok adalah kota yang sedang berkembang, dimana banyak hal disana yang sangat menarik dan terdapat banyak sekali keistimewaan-keistimewaan dari kota depok ini, dan sadar bahwa mahasiswa adalah generasi yang akan melanjutkan perjalanan kota depok dimasa yang akan datang.  Mahasiswa menganggap perlunya dibentuk sebuah wadah yang dapat memberikan informasi-informasi tentang kota depok dan keistimewaannya kepada seluruh mahasiswa yang berada dimanapun.</p>
<p>Oleh karena itu kami sebagai pelajar kota depok ingin menunjukkan rasa kebanggaan dengan segala kemampuan yang dimiliki, yakni dengan mendirikan sebuah organisasi yang dapat memfasilitasi hal tersebut.</p>
<p>Oganisasi tersebut bernama IKMD “Ikatan Keluarga Mahasiswa Depok”. Organisasi ini berdiri dari rasa kerinduan para pelajar/mahasiswa depok akan adanya sebuah wadah yang dapat menyatukan atau mengikat mereka sesama mahasiswa tanpa membedakan status mereka sebagaimana halnya sebuah keluarga yang utuh dan harmonis.</p>
<p>&#8220;Ikatan Keluarga Mahasiswa Depok&#8221; adalah organisasi primordial yang bersifat kedaerahan yang digagas oleh sekumpulan mahasiswa depok yang bergerak dalam bidang pendidikan ketrampilan/keahlian untuk mahasiswa dan lebih jauh lagi dalam bidang sosial kemasyarakatan.</p>
<h2>RENCANA PROGRAM KERJA</h2>
<h3>Rencana program kerja umum, yaitu:</h3>
<h4>Memberikan Pelatihan-pelatihan dalam bidang pendidikan (untuk sementara kami memberikan pelatihan dalam bidang pendidikan, untuk bidang lainnya akan kami jadwalkan).</h4>
<h4>Pelatihan dan pendidikan untuk pengembangan SDM anggota.</h4>
<h4>Pelatihan dan pendidikan untuk pengembangan SDM bagi masyarakat yang menjadi obyek pemberdayaan.</h4>
<h4>Ikut berperan dalam program pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat.</h4>
<h4>Menjalin hubungan kerjasama yang bersifat terbuka dengan pihak manapun dalam usaha pemberdayaan masyarakat.</h4>
<h1>BADAN PENGURUS&nbsp;</p>
<p>DAN BIDANG KEGIATAN</h1>
<h1>BADAN PENGURUS</h1>
<h2>DIREKTUR                  : Abdul Rohim&nbsp;</p>
<p>WAKIL DIREKTUR    : Deden Supriadi</p>
<p>SEKRETARIS               : Junaedi</p>
<p>BENDAHARA              : Ai Rahmawati</h2>
<h3>Badan Pengurus akan dilengkapi dan didukung dengan bidang kegiatan utama diantaranya :</h3>
<h3>1)      Bidang Pemberdayaan Teknologi.</h3>
<h3>2)      Bidang Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.</h3>
<h3>3)      Bidang Pemberdayaan Masyarakat.</h3>
<h3>4)      Bidang Keagamaan dan Pemberdayaan Perempuan.</h3>
<h3>5)      Bidang Sosial dan Budaya.</h3>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulrohim11.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulrohim11.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulrohim11.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulrohim11.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulrohim11.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulrohim11.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulrohim11.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulrohim11.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulrohim11.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulrohim11.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulrohim11.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulrohim11.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulrohim11.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulrohim11.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulrohim11.wordpress.com&amp;blog=8811584&amp;post=8&amp;subd=abdulrohim11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulrohim11.wordpress.com/2009/12/16/ariemcoo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1b5025784ad495a5bf043c4d0b6bbec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abdulrohim11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://abdulrohim11.wordpress.com/2009/07/31/hello-world/</link>
		<comments>http://abdulrohim11.wordpress.com/2009/07/31/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 08:05:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdulrohim11</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Peranan Media pengajaran dalam peningkatan mutu di Sekolah Dasar Media pendidikan adalah suatu bagian integral dari proses pendidikan di sekolah karna itu menjadi suatu bidang yang harus dikuasai oleh setiap guru profesional, oleh sebab itu haruslah menguasai segala macam ilmu pengetahuan (komperhensif) agar peserta didik menjadi seorang yang cerdas dan berwawasan luas. Kemajuan teknologi modern [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulrohim11.wordpress.com&amp;blog=8811584&amp;post=1&amp;subd=abdulrohim11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Peranan Media pengajaran dalam peningkatan mutu di Sekolah Dasar</strong><br />
</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">Media pendidikan adalah suatu bagian integral dari proses pendidikan di sekolah karna itu menjadi suatu bidang yang harus dikuasai oleh setiap guru profesional, oleh sebab itu haruslah menguasai segala macam ilmu pengetahuan (komperhensif) agar peserta didik menjadi seorang yang cerdas dan berwawasan luas.</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">Kemajuan teknologi modern adalah salah satu factor yang turut menunjang usaha pembaharuan. Peranan teknologi sudah demikian menonjolnya, terutama pada masyarakat dari Negara-negara yang telah berkembang. Telah disadari benar pentingnya media pengajaran dan pelengkapan pendidikan. Alat-alat itu meliputi alat Bantu pengajar atau alat peraga pendidikan dan perlengkapan sekolah, semuanya itu disesuaikan dengan tuntutan kurikuler dan tingkat kemampuan serta kemantapan para siswa. Dari sini tentu saja kepada guru diisyaratkan agar menggunakan alat-alat yang modern, efesien, dan mampu diperoleh oleh sekolah, dengan tidak menolak kemungkinan atas penggunaan alat-alat yang sesuai dengan tuntutan teknologi modern.</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">Di sekolah-sekolah yang sudah maju telah menggunakn berbagai jenis media pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman, untuk semua mata pelajaran dan segi-segi pendidikan.</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"> Dengan kata lain tumbuhnya kesadaran akan pentingnya media pendidikan maka haruslah direalisasikan dalam bentuk praktek. Disamping itu penting pula diperhatikan masalah penyediaan alat-alat yang dibutuhkan dan memahami penggunaaannya, juga berusaha mengembangkan keterampilannya (membuat sendiri) media pendidikan , bagi setiap guru di sekolah. Dari sinilah sudah mengacu pada fungsi pendidikan nasional yang telah diatur dalam undang-undang R.I. pada BAB II,Psl 3 dan 4, yang isinya</span></p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;">&#8220;Pendidikan nasional befungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional.</span></p></blockquote>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;">Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakqwa terhadap  Tuhan yang maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan maandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.&#8221;<br />
</span></p></blockquote>
<p><span style="color:#0000ff;"> Dari penjelasan diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa media pengajaran sangat lah penting untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan, baik itu tujuan pendidikan nasional maupun tujuan pendidikan sekolah, terutama pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar yaitu Berdasarkan ketentuan pasal 13 dan 14 UUSPN dan peraturan pemerintah nomor 28 tahun 1990 tentang pandidikan dasar yang bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warganegara dan  anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Dan seperti yang kita ketahui bahwa daya tangkap peserta didik di Sekolah Dasar ialah dengan pengenalan dan penghafalan tanpa harus menelitinya oleh karna itu peranan media pengajaran sangat lah menunjang untuk memudahkan peserta didik di Sekolah Dasar dalam menerima pelajaran yang didasari dengan daya imajinasi yang tinggi.</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">Dan menjadikan peserta didik yang mampu mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberi pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><br />
</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#0000ff;">Dr.Oemar Hamalik:”<em>Madia Pendidikan</em>”Citra Aditya Bakti,Bandung:1994</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="color:#0000ff;">Drs.H.M.Alisuf Sabri ”<em>Ilmu Pendidikan” </em>Pedoman Ilmu Jaya,Jakarta:1998</span></li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulrohim11.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulrohim11.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulrohim11.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulrohim11.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulrohim11.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulrohim11.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulrohim11.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulrohim11.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulrohim11.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulrohim11.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulrohim11.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulrohim11.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulrohim11.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulrohim11.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulrohim11.wordpress.com&amp;blog=8811584&amp;post=1&amp;subd=abdulrohim11&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulrohim11.wordpress.com/2009/07/31/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1b5025784ad495a5bf043c4d0b6bbec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abdulrohim11</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
